oleh

Abang Kisu… Suatu Kisah Nyata

 

Disebuah desa…Sebut saja desa Dewa (bukan sebenarnya), ada seorang bujang telah berumur. Ia mempunyai sifat dan tabeat buruk hingga dianggap dungu dan rendah oleh masyarakat desanya. Gelar dungu dan rendah itu, karena nalarnya dinilai aneh alias error, yaitu menganggap dirinya paling benar. Dan enggan untuk menerima pendapat atau masukan orang lain. Saking dungunya, ia sangat marah jika disalahkan.

Sikap dan perangainya itu, menurut dia “semua benar dan tidak perlu orang lain koreksi.” Padahal bagi orang lain sikapnya itu adalah “O’on karena nalar error. Tokoh ini sebut saja Abang Kisu namanya (bukan nama asli).

Dalam kehidupannya, tidak pernah terpikir oleh Abang Kisu, bahwa, “ada juga pendapat orang lain yang benar“. Tapi ditolak, dan tidak dibutuhkan oleh Abang Kisu, walaupun datang dari keluarganya sendiri. “Bagi Abang Kisu sikap dan pikirannya sudah pasti benar.”

Karena tabiatnya yang demikian sehingga Abang Kisu dikucilkan dan direndahkan oleh masyarakat. Lebih lagi, sosok pribadinya menjadi bahan olok-olokan di masyarakat. Image masyarakat sangatlah buruk, sehingga siapa saja warga desa Dewa yang dianggap memiliki sifat dan perangai kaya Abang Kisu, akan diledeki “Kisu banget sih loh…!”.

Dalam pergaulan remaja, Abang Kisu hampir tidak memiliki teman akrab, terutama dari kaum hawa yang bisa dijadikan pacar. Gadis-gadis akan marah dan murka jika diledekin “Ada salam dari Abang Kisu, dan Abang Kisu sayang kamu…!

Pendangan masyarakat desa, tentang sikap hidup Abang Kisu sangatlah ganjil dan tidak enak. Karena itu paman dan bibinya menaroh kasihan, sehingga berusaha untuk memberitahu agar sifat dan perangai Abang Kisu berubah. Eeee… ternyata Abang Kisu tersinggung dan tidak mau terima. Malah paman dan bibinya mendapatkan jawaban melekit rada menantang dari Abang Kisu. Akibatnya keluarga pun enggan dan membiarkan Abang Kisu semaunya.

Berjalan waktu, perasaan Abang Kisu mulai tidak enak dan malu juga jika menumpang terus pada orang tua, apalagi usianya sudah lebih dari kepala tiga. Tersirat lah dalam benaknya untuk hidup mandiri dengan berupaya mendirikan rumah panggung walaupun hanya sederhana.

Dikumpulkannya bahan-bahan dan material hingga mencukupi untuk berdiri kerangka rumah. Pada hari yang dianggap mocer dan baik, Abang Kisu meminta kepada pamong desa untuk mengumumkan kepada warga bahwa, “besok ia mau mendirikan kerangka rumah.

Pada hari Jum’at, saat warga berkumpul di masjid, pamong desa mengumumkan sesuai permintaan bahwa, “besok Abang Kisu akan mendirikan kerangka rumah, oleh karena itu kita rame-rame bergotong-royong untuk membantu Abang Kisu.” ujar pamong pada warganya.

Untuk memperlancar semua itu, sepulang sholat Jum’at, pamong desa meminta kepada putrinya untuk menghubungi teman remajanya agar ikut membantu memasak di rumahnya Abang Kisu.

Esok harinya berbondonglah kaum lelaki datang untuk gotong royong. Mereka rame-rame bekerja sesuai keahliannya. Saat itu mata hari sudah mulai panas, dan Jam sudah menunjukan pukul 10.00, tetapi belum ada satu pun remaja putri yang datang membantu.

Pak Pamong lalu menghubungi putrinya. “Kemana teman-temanmu, belum pada datang untuk bantu masak?” tanya pamong pada putrinya. “Sudah dikasih tahu pak, cuma mereka ndak mau datang,” jawab putrinya. “Kenapa?” tanya ayahnya penasaran. Putrinya tidak menjawab, hanya tersenyum doang. Sementara Abang Kisu sudah senang-senang, karena ada kesempatan untuk melirik-lirik gadis di desanya. “Ini kesempatan, siapa tahu ada yang mau ujar Kisu dalam hatinya.

Usut punya usut, ternyata tidak hadirannya mereka, ada yang mengembosi seraya meledek “siapa yang datang memasak di rumah Abang Kisu, berarti ia bersedia menjadi istri tersayang Abang Kisu. Asyiiik Coy…!” begitu narasi ledekan dari mereka, sehingga satupun tidak ada yang datang. “Kasihan Abang Kisu, angan-angan indahnya gagal terlaksana.”

Bersambung Episode Berikut:
Abang Kisu dapat jodoh, Janda beranak satu yang telah berumur.
Anak tirinya disiksa hingga terganggu pendengannya.
Istri dan anak tirinya dipaksa bekerja di sawah, mulai tanam hingga panen
Sementara Abang Kisu hanya habiskan waktu, utak utik barang yang tidak berharga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *