oleh

Petani dan Se-ekor Kuda

 

Seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik dan gagah. Tangkas ditunggangi saat peperangan. Cepat berlari untuk kerja musuh. Karena dulu, kendaraan andalan dalam berperang adalah kuda. 

Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu dengan tawaran menggiurkan. Sayangnya si petani tidak berhasrat untuk menjual kuda kesayangannya itu. Sang pedagang sedikit kecewa, tapi belum putus harapan.

Teman-teman si petani sungguh menyayangkan dan mengejek karena tidak menjual kudanya. “Padahal kesempatan untuk menjadi kaya sudah di depan mata,” begitu pemikiran dari teman-temannya. 

Keesokan harinya, kuda itu hilang, dengan serta merta teman-temannya berkata dan meledeknya: “Sungguh jelek nasibmu, padahal kalau kemarin kamu jual, kamu jadi orang kaya. Sekarang kudamu hilang… gigit jari deh kamu,” sesal mereka menyayangkan. Si petani hanya diam saja tanpa komentar apa-apa.

Selang beberapa hari, rupanya kuda itu kembali bersama 5 ekor kuda liar lainnya. Teman-temannya pun berkata: “Wah..! Beruntung sekali nasibmu, ternyata perginya kudamu membawa keberuntungan dengan membawa kuda-kuda liar yang tidak ada pemiliknya,” ujar mereka. Si petani tetap diam tanpa komentar.

Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda barunya, terjatuh dan kakinya patah. Lagi-lagi teman-temannya berkata: “Rupanya kuda-kuda itu membawa sial, lihat sekarang anakmu kakinya patah..” ledek mereka. Si petani tetap diam tanpa komentar.

Sepekan kemudian terjadi peperangan di wilayah itu. Keputusan Raja, “semua anak muda diharuskan untuk berperang, kecuali si anak petani yang kakinya patah karena tidak bisa berjalan,”. Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis: “Beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang, kami harus kehilangan anak-anak kami, yang akan terancam mati di medan perang,” tutur mereka.

Atas pandangan dan persepsi teman-temannya yang menilai bahwa hidup ini hanya dari sisi untung rugi belaka, maka si petani itu pun kemudian berkata:
“Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau nasib jelek. Sebab semuanya adalah suatu rangkaian proses yang belum selesai,” ujarnya.

“Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok,” papar petani itu kepada teman-temannya tadi.

“Tetapi yang pasti, Allah paling tahu yang terbaik buat hambaNya.  Bagian kita adalah, mengucapkan syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah dalam hidup kita ini. Jalan dibentangkan Allah belum tentu tercepat, bukan pula yang termudah.. tetapi sudah pasti terbaik,” pungkasnya penuh retoris.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *