oleh

Abang Kisu Dalam Suatu Kisah

Gagal mempersunting Markona. Gagal menggapai impiannya yang tinggi. Apalagi teman-teman dan orang-orang yang selama ini direndahkan dan disepelekan, kesemuanya telah berprestasi dan melalang buana melampaui keberadaan Abang Kisu yang tetap terkungkung oleh pikirannya di bawah tempurung Doro Dewa.

Perubahan yang tidak disangkanya, membuat Abang Kisu kaget. Kemudian dicobanya untuk mengejar. Namun karena terlalu jauh berada di belakang, mustahil bisa menyamai. Akibatnya Abang Kisu frustasi dan depresi sehingga timbul nalar-nalar aneh akibat stres.

Orang yang selama ini ia anggap rendah dan tidak berkemampuan, telah berdiri tegak di depan. Mau tak mau Abang Kisu harus patuh pada keputusan Tuan Takur, yang menetapkannya berada di barisan paling belakang.

Secara kejiwaan, kondisi demikian ditolak, sehingga denyut nadi dan perasaan Abang Kisu bergejolak tidak beraturan. Bergejolak karena mempertahankan harga diri yang dia agungkan. Dalam hatinya, ingin melawan dan menolak. Karena menurut dia, dia lah yang pantas untuk berada di depan.

Bergejolaknya Ego yang menolak takdir…. itulah penyebab sikap dan nalar Abang Kisu jadi liar menyimpang. Liar karena anggap diri paling benar. Masukan dari keluarganya tidak dianggap. Menyimpang karena menyalahi kaedah.

Pernah suatu kejadian, ada seorang pengantar paket di sebuah komunitas. Abang Kisu bertanya dengan nada yang melekit “Paket apa nih,” tanyanya.

“Saya hanya antar bang,” jawab pengantar. “Kamu harus bertanggung jawab tentang isi paket ini. Coba jelaskan kepada saya,” desak Abang Kisu memaksa.

“Jelasin bagaimana bang?, ini barang bukan produk saya, jadi nggak perlu saya jelasin,” jawab pengantar apa adanya.

Dengan kasar Abang Kisu, membentak pengantar paket untuk bertanggung jawab karena menurut Kisu ‘paket itu telah mempengaruhi orang-orang di komunitasnya’.

“Saya harus bertanggung jawab sama siapa bang?, dan orang yang terpengaruh dengan paket ini siapa saja bang?” tanya pengantar paket yang membuat kikuk Abang Kisu.

Dengan emosinya Abang Kisu menyergah menutupi kikuknya. “Kamu ini banyak tingkah yaa. Kamu belum tau saya siapa?,” gertaknya sambil membanting kakinya yang terbungkus slop dari kulit Unta.

“Maaf bang, saya nggak tahu,” jawab pengantar paket pura² lugu. “Ooo iya bang… itu ada lagi pengantar paket, dipanggil aja bang biar jelasin isi paketnya,” ledek si pengantar paket karena noraknya otak Abang Kisu. (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *