oleh

Edisi 2 Asmara Terlarang Dari Sang Istri “Cerita Bersambung”

Melihat gelagat istrinya, Sang suami menasehatinya agar ia tidak lama-lama main internet, namun tidak digubrisnya. Sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan istrinya, sang suami kemudian menjual komputer tersebut. Lalu apa yang terjadi ?

Keputusan suami menjual komputer membuat sang istri marah yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Karena sungguh terngiang dalam benaknya, kata-kata manis dan romantis dari sang kekasih yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji untuk menikahinya apabila ia bercerai dengan suaminya.

Suami yang sangat mencintai keluarga dan istrinya tentu saja menolak permintaan istri untuk bercerai. Namun karena terus didesak, akhirnya sang suami dengan berat hati menceraikan istrinya.

Sungguh … betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkat cerita, setelah  bercerai dengan suaminya ia pun menemui kekasihnya dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya yang telah menjadi janda.

Lalu apakah pria itu mau menikahinya sebagaimana janji-janji manisnya?

Dengan tegas lelaki itu berkata… “Tidak….! Aku tidak mau menikahimu. Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu. Ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami. Dan, aku takut bila menikahimu, nanti engkau akan mencampakkan aku, laksana daun pisang yang hanya berguna untuk payung saat hari hujan, setelah hujan reda akan dibuang begitu saja.

Sekali lagi Tidak…! Kamu bukan tipe wanita yang setia,” tegas kekasihnya itu. “Bukan wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya,” pungkasnya.

Lalu lelaki itu pun berdiri meninggalkan wanita tersebut. Sang wanita dengan isak tangis yang tak tertahan, akhirnya ia pun pulang dengan perasaan malu dan hati remuk.

Bergolak dalam pikirannya. Meminta rujuk kembali dengan mantan suaminya adalah mustahil, mengingat betapa buruknya dia melayani sang suami dan telah menjadi istri yang tidak setia kepada suami.

Dengan langkah gontai dan lunglai, bayangan tidak menentu, kerikil yang diinjak tidak lah terasa. Dalam pikirannya hanya amarah dan penyesalan. Ia terus menyusuri jalan hingga tak terasa rumah orang tua yang dituju telah terlewat jauh. Lalu ia pun berhenti sejenak. Perut lapar tidak ia rasakan. Dalam pikirannya terlintas hanya dua pilihan yang sulit. Apa balik ke rumah orang tua, atau dengan tebal muka berpura-pura nengok anak balik ke rumah mantan suaminya. (Bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *