oleh

Indonesia Butuh Capres dan Parpol yang Berani Ubah Skema Pembagian Keuntungan Hasil Sumber Daya Alam

Indonesia Butuh Capres dan Parpol yang Berani Ubah Skema Pembagian Keuntungan Hasil Sumber Daya Alam

Oleh : NA. Haryokusumo Diatmodjo, Aktifis 98 Garis Putih, Pemerhati Politik dan Tata Negara dari Government And Policy Institut

Rakyat harus disadarkan. Saatnya rakyat bergerak untuk menyelamatkan Indonesia. Dulu para pejuang berjuang lebih berat. Tidak hanya harta benda yang dikorbankan, nyawapun dikorbankan demi mengusir penjajah untuk merebut kemerdekaan. Sekarang sudah merdeka jangan sampai dijajah lagi oleh para oligarki untuk kepentingan asing dan aseng.

Perjuangan sekarang lebih mudah, hanya kawal pemilu bersih, dukung parpol dan capres pro pribumi yang bekerja untuk kepentingan pribumi guna menyelamatkan kekayaan sumber daya alam untuk kemakmuran pribumi.

Kesadaran penyelamatan bangsa dan negara harus dimulai dari rakyat. Rakyat harus dibangunkan dari tidur yang panjang agar sadar dan mau interospeksi. 3,5 Abad kekayaan alam dikuras dan dirampok penjajah Belanda. 1 Abad setelah merdeka kekayaan sumber daya alam dikuras dan dirampok oleh kaki tangan penjajah atau londo ireng. Belandanya diusir tetapi budaya birokrasi pemerintahanya digunakan sampai sekarang untuk berkuasa. Akibatnya rakyat tetap hidup miskin seperti zaman penjajah.

Rakyat harus berani meninggalkan parpol yang selama ini dipilihnya. Pilihlah parpol dan capres yang berani bikin perjanjian kontrak politik dengan rakyat untuk membuat undang-undang penyelamatan kekayaan sumber daya alam seperti minyak, gas, batubara, emas dan mineral lainya dengan pembagian keuntungan 50% untuk negara, 50% untuk investor.

Selama ini pemasukan negara dari hasil keuntungan sumber daya alam sangat kecil 10% ke negara, 90% ke investor. Pemasukan negara yang sangat kecil ini sangat merugikan negara, hanya memperkaya elit penguasa dan konglomerat kroninya. Jika pembagian keuntungan pengelolaan sumber daya alam dengan cara dimaling dan dikorupsi maka sampai kapanpun Indonesia tidak akan pernah jadi negara besar dan maju.

Contoh sekarang harga batubara di dunia naik. Yang makin kaya konglomerat batu bara asal singapura yang menguasai tambang batubara di Kalimantan. Sedangkan negara harus membeli batubara dengan harga mahal untuk pembangkit PLN. Dampaknya tarif listrik ikut naik. Yang benar harusnya negara makin kaya ketika harga minerba naik.

Cadangan kekayaan sumber daya alam Indonesia akan habis ditambang sampai 50 tahun ke depan. Terjadi eksploitasi besar besaran. Kalau mau menyelamatkan negara saatnya sekarang, jangan terlambat.
Saat ini 40% suplai emas dunia dipasok dari Indonesia. 70% nikel dunia dipasok Indonesia. 60%, batubara dunia disuplai Indonesia. 50% gas dunia disuplai Indonesia. Indonesia urutan ke tiga sebagai negara pemasok minerba dunia. Bisa dibayangkan, seharusnya Indonesia jadi negara terkaya di dunia. Faktanya malah sebagai negara miskin dengan hutang yang tinggi, terancam gagal bayar. Ini akibat salah pilih parpol dan salah pilih presiden yang berakibat salah kelola negara.

Harusnya keuntungan dari hasil kelola kekayaan sumber daya alam masuk ke kas negara yang terjadi malah mengalir ke kantong pribadi para penguasa. Hanya 10% yang masuk ke kas negara dengan pembagian pemerintah pusat 4%, propinsi 1,5%, Kabupaten penghasil 2,5%, Kabupaten lain se Indonesia 2%. Yang 90% jadi bancakan dinikmati investor dan para elit penguasa.

Pribumi kredit rumah bebas bunga, rakyat digratiskan dari aneka pajak dll.

Ada hal menarik yang membahagiakan rakyatnya dan patut ditiru, di Arab Saudi kendaraan bebas pajak dan toll gratis.
Walaupun harga minyak dunia naik harga pertamak di dalam negeri Arab Saudi tetap Rp. 3.280.
Di Brunai harga pertamak Rp. 5.400. Negara benar benar melindungi rakyatnya. Bandingkan dengan Indonesia yang sama-sama sebagai penghasil minyak dunia, harga BBM terus naik secara liberal mengikuti harga dunia yang dipatok dengan nilai dollar AS, di satu sisi penghasilan rakyat yang mayoritas hidup di pedesaan sebagai petani pendapatanya sangat kecil harus belanja kebutuhan yang harganya ikuti dollar AS. Jelas ini menyulitkan rakyat dan tidak adil ditambah saat ini rakyat terbebani hutang negara 25 juta perkepala.

Adakah Parpol yang konsisten berjuang untuk pribumi dan tak mau jadi budak Oligarli ?

Secara ril dan objective dari sudut fakta, mayoritas pengamat politik sepakat bahwa saat ini parpol lama yang menunjukan konsistensi bekerja pro pribumi dan bukan budak oligarki tergabung dalam koalisi pengusung Anies Capres 2024. Belum nampak oligarki yang mendanai partai ini. Walau dikucilkan, dipinggirkan, disingkirkan rezim JKW bahkan seperti PKS mau dibubarkan rezim dengan berbagai fitnah, nampak partai ini istiqomah jadi oposisi di luar kekuasaan. Parpol lain track recordnya masih menggantungkan dana dari para oligarki, cukong atau pengijon. Bahkan banyak partai ironisnya justru dimiliki oleh konglomerat. Inilah yang bikin rusak dan bangkrut negara karena setelah berkuasa mereka akan memindahkan kekayaan negara ke kantong pribadi dan kroninya dengan berbagai cara termasuk merubah konstitusi dan bikin UU sesuai kepentinganya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *