oleh

Aliansi Aksi Sejuta Buruh Rizal Ramli : UU Cipta Kerja dan UU Kesehatan Adalah Perbudakan Modern

POLISI NEWS, JAKARTA – Peopel power yang digaungkan di Solo beberapa waktu lalu, dibuktikan 10 Agustus. Aliansi Aksi Sejuta Buruh (AASB) mengkoordinasikan seluruh organisasi buruh melakukan demo untuk menuntut Presiden RI Joko Widodo. Meski tema sentralnya Cabut Undang-undang Cipta Keja, namun tuntutan akhirnya Turunkan Jokowi.

Aksi sejuta buruh yang sudah dimulai siang hari dengan titik kumpul di Jl. Thamrin dan Jakarta Pusat, mulai bergerak ke Bundaran Patung Kuda. Orasi dari dua arah di atas mobil komando, menjadi hanya satu mobil komando. Selain para koordinator aksi yang orasi, ada juga tokoh yang selama ini kritis.

Rizal Ramli tampil sebagai pembicara, mengobarkan semangat para buru, menuding Joko Widodo sedang menghidupkan perbudakan modern.
Undang-undang Cipta Kerja ini saya menyebut sebagai undang-undang celaka, termasuk undang-undang kesehatan. Jokowi sedang menghidupkan perbudakan modern.

Dr. Eggi Sujana yang tampil sebagai pembicara mengatakan omnibuslaw, secara konstitusi sudah gak bener. Oleh karena itu, Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia mengatakan, Jokowi harus mundur. Bagaimana kalau Jokowi gak mau mundur? Langsung dijawab serempak peserta demo : “Revolusi”

Khozinuddin, MH, yang dikenal sebagai pengacara kondang menyebutkan : “MK tegas mengatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional bersyarat, karena cacat formil”. Meski dari berbagai aspek sudah tidak layak, namun masih tetap dipaksakan, sehingga menimbulkan protes dari seluruh buruh.

Peserta aksi yang menggunakan berbagai kostum masing-masing organisasinya, banyak yang nampak santai. Posisi rebahan dijalan aspal yang teduh karena matahari sore terhalang pohon penghijau sepanjang jalan Thamrin. “Ngumpulin energi buat bergerak menjelang malam” ujar seorang peserta aksi yang asyik rebahan di aspal. “Berdo’a aja, mohon kepada Allah'” ujar Eggi Sujana sewaktu ditanya PolisiNews, apakah sampai target sejuta buruh.

Sementara aparat keamanan mulai dari yang berseragam Polisi, Tentara, Dinas Perhubungan, hingga Polisi Pamong Praja nampak berbaur diantara peserta aksi. Barikade yang dipasang untuk menghalangi peserta aksi tembus istana, luar biasa ketat. Mulai dari kawat berduri, barier pelastik yang berisi air, hingga tembok beton knock down.

“Seharusnya presiden yang mendatangi kita, ini malah kita dihalangi barikade yang sulit ditembus” lanjut DR. Eggi Sujana kecewa. Kita udah minta demo sampe pukul 18,.00 tidak diizinkan, hanya dibatasi sampe pkl 17.00 Kita lihat aja, entar!” lanjut Eggi.

Massa buruh nampak terus berdatangan, makin sore, makin padat di seputaran bunderan Patung Kuda. @Sahal/Eks.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *