oleh

Banteng Kedaton Hadapi Jokowi Berubah Menjadi Sibuya

Banteng Kedaton Hadapi Jokowi Berubah Menjadi Sibuya
Oleh: Endang K Sobirin

Gunjang-ganjing Gibran bakal jadi Bacalon Wapres, akhirnya terjawab. “Jangan takut Pa Prabowo, saya sudah di sini!” kata-kata ini cukup menggelegar pada pidato perdana Gibran, usai mendaftar di KPU sebagai Bacawapres.

Putra sulung Joko Widodo yang karier politiknya baru seumur jagung sebagai Walikota Solo. Terkesan pendiam, bahkan istilah orang Betawi klemar-klemer, ternyata “bisa ngomong”. Bukan cuma sekadar, bahkan terkesan sombong.

Kebayang, ga? Letjen (Pur) Prabowo Subianto yang untuk ketiga kalinya ikut kontestasi Capres, disuru tenang. Ironisnya, ditenangkan oleh anak bau kencur. Sementara Gibran yang menyuru Capres Prabiwo tenang, gestur tubuhnya menunjukan sikap yang ga bisa tenang.

Memindahkan mikrophone yang dipegang dari kanan ke tangan kiri, menurut ahli prilaku Kirdy Putra, menunjukan ketidak tenangan Gibran. Meski nampak seperti orator ulung, namun sikap grogi dan ketidak tenangannya nampak dari gestur tubuhnya.

Gibran ingin meyakinkan Capres Prabiwo, dirinya sudah resmi terdaftar menjadi Cawapres. Hal ini disebabkan gonjang-ganjing lebih dari dua bulan terakhir, bisa tidaknya Gibran Raka Bumi Raka mendampingi Prabowo. Banyak faktor yang menghalanginya.

Selain usianya belum mencapai usia minimum Cawapres. Partai pendukung yang belum jelas dukungannya. Sebab PDIP partai yang mendukung Gibran jadi Walikota Solo sudah punya calon sendiri.

Hal aneh yang mengejutkan, Partai Golkar mengusung Gibran sebagai Cawapres. Kejutan lain datang dari Mahkamah Konstitusi yg memutus boleh jadi Cawapres, di bawah usia 40 tahun. Tidak heran jika kemudian MK diplesetkan menjadi Mahkamah Keluarga.

Sebelum didaftarkan, PDIP belum bisa mengambil tindakan tegas terhadap Gibran. Selain kader, Gibran juga termasuk Tim Sukses dan Jurkam tingkat nasional.

Setelah syah terdaftar sebagai Cawapres dari Partai Golkar. Ketua Umum PDIP yang selalu bertindak tegas, main pecat kader yg dua hati. Terakhir Bu Mega mecat Budiman Sujatmiko, kader PDIP yang bukin Prabu (Prabowo Budiman), pindah ke Gerindra.

Bu Iriana, mungkin puas membalas sakit hatinya pada Bu Mega. Goresan luka hatinya susah hilang sejak Megawati bilang, tanpa PDIP, Jokowi bukan siapa-siapa. Kini dibuktikan, tanpa PDIP, putra sulungnya maju jadi Cawapres.

Pramono Anum Mensekab membantah hubungan Jokowi dengan PDIP retak, “baik-baik saja.” kata Pramono Anum. Namun hingga kiwari belum ada komentar apapun dari Megawati, apalagi nemecatnya. Padahal sudah jelas dan nyata anak-anak Jokowi sudah tidak separtai.

Banteng Kedaton yang nampak sangar dan beringas dengan mata merahnya. Menghadapi Jokowi berubah menjadi Sibuya, kerbau penggarap sawah jinak yang dibawa Adian Napitupulu demo anti SBY.

Masyarakat menunggu sikap Megawati, Ketua Umum PDIP yang dikenal tegas dan keras. Masalahnya, Ganjar menggantikan Jokowi sebagai petugas partai menjadi gamang. Tanpa PDIP, Gibran tidak punya masa fanatik, akankah Gibran mampu mengalahkan Ganjar di kandang banteng?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *