oleh

Kuda Sumbawa Meronta Kepanasan. Serdadu Kera Menyerbu Pemukiman Warga

POLISI NEWS, BIMA – Baru kali ini Bima berprestasi mendapat PIALA sebagai Panas Tertinggi peringkat ke-3 se-Indonesia. Suhu yang mencapai di atas 35° lebih membuat kuda-kuda (🐎-🐎) Bima meronta minta tolong. Lantas, Siapakah yang harus menolong dan bertanggung jawab?. Tanyakan saja kepada Dae…!

Pandangan ke gunung, hampir semua lahan seantero Sumbawa yang tadinya rimbuh dan sejuk, tidak terlihat lagi pepohonan untuk berteduh.

Kondisi itu, para penggarap pun ikut mengeluhkan. “Sekarang di gunung tidak ada lagi pohon untuk berteduh. Hanya pondok / SALAJA (bahasa Bima) saja satu-satunya tempat untuk berteduh,” ucap salah satu penggarap kepada Polisi News.

Sebetulnya mereka juga berpikir akan suhu tinggi yang menyiksa dan lenyapnya sumber air. Namun karena tergiur dengan hasil tanam jagung yang Aduh-Hai sehingga mereka lupa akan resiko penggundulan hutan.

Polisi News pernah coba berikan solusi, tanpa harus melarang tanam jagung. “Disetiap radius 25M setiap lahan harus dibikin sumur resapan dengan kedalaman (3-4) Meter, sehingga air hujan bisa resap dalam tanah dan tidak semuanya bermuara ke kali yang mengakibatkan banjir. Namun kesadaran akan itu, belum terlaksana.

Monyet-monyet kehilangan habitat. Pohon-pohon merupakan kediaman para hewan itu abis ditebang. Mereka tidak bisa berdemo di persimpangan jalan berkoar-koar seperti mahasiswa yang menuntut keadilan. Jalan satu-satunya terpaksa mereka masuk ke pemukiman warga.

Kita bayangkan bagaimana sulitnya memberantas monyet-monyet kalau sudah mencari makan di rumah warga atau di perkantoran seperti yang terjadi di India. Siapa yang disalahkan? @Theo Wawo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *