oleh

Pilpres 2024 : Antara Ambisi dan Bayangan Penjara

Pilpres 2024 : Antara Ambisi dan Bayangan Penjara. @ Theo Wawo 

Paslon Nomor Urut dua berjuang ketiga kali untuk menjadi presiden. Bodohkah dia memilih anak kemarin sore menjadi wakilnya sehingga rela kalah untuk ketiga kalinya?. Jawabannya tentu No…! Namun terlihat ambisinya mengambil anak presiden untuk calon wakil.

Hal ini sudah dipertimbangkan dan diperhitungkan agar dapat dukungan dari Jokowi dan keluarganya yang lagi gundah gulana akan bayangan menyiksa setelah tidak lagi berkuasa.

Dipilihnya bocah minim pengalaman, apakah partai besar seperti Golkar, Demokrat akan dukung totalitas?. Hal ini masih bisa diperdebatkan. Secara gengsi intelektual mustahil orang cerdas berpengalaman seperti SBY, Erlangga, AHY dan lainnya rela dipimpin oleh seorang bocah.

Kok mau gabung?. Jawaban sederhananya, politik adalah ambisi kekuasaan. Walau dicerca dari seluruh penjuru mata angin tetap ikuti kata ambisi.

Jika Prabowo jadi Presiden. Ditinjau dari umur dan phisik, tentu tidak bertahan lama, dan setelahnya dianggap halangan permanen, sehingga sibocah wakilnya lenggang menjadi pemimpin negera dan pemimpin militer sebesar Indonesia.

Pengamat politik Rocky Gerung nilai, jika hal itu terjadi. Prabowo berhalangan dalam acara semisal KTT-OKI, dan Gibran lah yang mewakil. Bayangkan dengan keterbatasan intelektual dan pengalaman, apa yang akan terjadi. Tentulah planga plongo di tengah para pemimpin negara lainnya.

Skenario murahan gampang ditebak. Salah satu Hakim MK dijadikan ipar. Berhasil keluarkan Putusan sesuai selera. Mengubah syarat usia capres dan cawapres, hingga sibocah lenggang menjadi calon orang kedua di negeri ini.

Pertanyaannya. Apakah mereka masih peduli dengan masa depan bangsa?.  Kini negara hanya dikuasai segelintir orang. Mengabaikan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Dengan sedikit garang, MKMK permasalahkan pelanggan Etik berat. Namun esensi Putusan MK tetap dikesampingkan. Apakah ini termasuk dagelan juga?.

Bagaimana dengan Partai Wong Cilik ?. Dulu Ganjar dimusuhinya. Sekarang dicalonkan jadi Presiden. Gibran jadi cawapres Prabowo, tidak dipecat dari PDIP. Namun kader lain deklarasikan diri menjadi pendukung Prabowo, tidak ada ampun, langsung dikeluarkan dari PDIP.

Manufer-manufer khusus, mungkin telah mengunci si Nenek Tua sehingga peduli wong ciliknya sirna dan punah. Kekuasaan terus berada di bawah kendali cukong-cukong Cina dan Partai Komunis Cina.

Manusia punya makar. Dan Allah pun punya makar. Makar Allah lebih dahsyat dan canggihnya makar manusia.

Rasa khawatir dan bayangan penjara terus terngiang menyesakkan dada sehingga langkah blunder terus menerpa. Begitulah Tuhan punya cara untuk menegur manusia yang lalai dan dzolim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *