oleh

Nestapa, Kesendirian di Usia Senja

Nestapa, Kesendirian di Usia Senja

Seorang teman bercerita tentang sebuah kisah pentingnya silaturrahim.

Demikian Kisahnya…! Profesi sebagai pengantar koran kerap disepelekan orang, namun terdapat kemuliaan, yang mungkin jarang didapat oleh kaum berada atau terhormat.

Penilaian sepele itu tidak menjadikan langkah terhenti dalam upaya mencari rezeki guna memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tukang pengantar koran memulai ceritanya. Sambil narik napas panjang mengumpulkan ingatan akan kisahnya lalu menceritakannya : Ada seorang tua menjadi pelangganan koran. Usianya antara 70-80 lebih tahun. Rumahnya mewah pekarangannya luas melambangkan orang berada.

Kotak surat di pintu masuk tertutup dan di-Las sehingga tidak bisa dibuka. Umumnya agar tidak repot, koran dan surat cukup dimasukan dalam kota tersebut. Sehingga terpaksa agar tersampainya koran dengan aman, harus ketuk pintu untuk menyerahkan secara langsung korannya.

Terlihat yang membuka pintu, orang tua renta, badannya sudah lemah, dengan empati tukang koran berujar : “maaf Pak..! jika lubang kotak surat bisa dibuka, Tuan tidak perlu susah-sasah menemui saya hanya sekedar terima koran,” ujar tukang koran.

Dengan perasaan senang orang tua itu menjawab. “Sengaja saya tutup kotak surat itu, agar adik bisa sampaikan koran secara langsung kepada saya,” jawabnya.

Saya ingin selalu ketemu dengan adinda. “Tolong ketuk pintu atau bunyikan bel tiap harinya biar saya keluar menerima koran,” pintanya.

Tukan koran menjawab :
“Bukankah akan merepotkan Tuan dan hanya buang waktu untuk sekedar menerima koran?,” tanya tukang koran.

“Tidak apa-apa, saya selalu ada di rumah. Oyaa.. karna dik tiap hari harus ketuk pintu, maka saya akan berikan tambahan 50 ribu setiap bulan untuk biaya ketuk pintu. Terima yaa…!” Pinta orang tua yang mengharapkan kasih sayang dan kedekatan bersama keluarga di usia senjanya itu.

Dan orang tua itu, berpesan kepada pengantar koran, “Jika suatu hari nanti Adik tidak mendapat jawaban saat mengetuk pintu, tolong hubungi polisi,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Tukang koran terkejut, dan ikut sedih sambil bertanya, “kenapa Pak ?,” Orang tua itu menjawab, “istri saya sudah wafat, anak saya berada di kota lain, dan saya tinggal sendirian. Siapa yang tahu ketentuan Allah berlaku. Saat dipanggil untuk menghadapNya,” jawabnya dengan mata berkabut dan lebab.

Tukan koran pun ikut iba dan bertanya, “apakah Tuan berlangganan koran untuk dibaca?”. Beliau menjawab, “saya tidak pernah membaca koran. Saya¬† berlangganan, hanya butuh SUARA dan adanya KETUK PINTU tiap hari,” jawab orang tua yang selalu mengingin adanya keluarga atau anak-anak yang mendampinginya.

Beliau memegang paha tukang koran dan berkata: “Anak muda, tolong bantu saya, ini nomor telepon anak saya. Jika suatu hari nanti anda ketuk pintu, dan tidak ada jawaban, tolong selain hubungi Polisi, juga hubungi anak saya untuk memberi tahu, bahwa saya telah tiada dan berpulang menghadap Tuhan Allah SWT,” ucapnya sendu.

Karena itu kami-pun nangis bersama sambil berpelukan hangat. Alangkah nestapanya jika di hari tua mengalami hal demikian.

Tentu saja ada orang-orang yang hidup sendirian, sunyi dan sepi jauh dari belaian kasih dan perhatian keluarga. Kesudahan yang memilukan. Tidak ada satupun insan Tuhan yang ingin itu.

Rasulullah berpesan, jalinlah silaturrahim, sayangilah keluarga dan orang-orang terdekat, tentu mereka juga akan sayang sama kita. Mengirim pesan pagi sore di WhatsApp bagian dari silaturrahim. @ HMT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *