oleh

Tadinya Rintih Kekurangan Air. Kini Menangis Dilanda Banjir. Ini Baru Peringatan Wahai Penguasa….!

Tadinya Rintih Karena Kekurangan Air, Kini Menangis Dilanda Banjir. Ini Baru Peringatan Wahai Penguasa

Belum genap sebulan, wartawan menulis di Media ini, tentang kekeringan dan kesulitan air bersih. Terpaksa Pemkot Bima menyuplai air kepada warganya

Di mana mana teriak tentang panas, sumur kering, susah air. Di Kantor Polres Bima Kota, beberapa mesin sedot air kempos, karena tidak ada air yang dapat ditarik.

Di Kecamatan Wawo wilayah Kabupaten Bima, banyak desa yang tidak ada lagi aliran air PAM, sehingga truk tangki satu-satunya milik pemerintah sibuk melayani warga akan air. Dan banyak lagi daerah lain yang mengalami hal sama. Sape, Donggo Soromandi dll.

Kini…. baru datang hujan 2-3 kali banjir telah beraksil. Jembatan Sondosia Bolo di-test konstruksinya, ternyata roboh. Lalulintas antar kota terganggu. Padi siap panen di daerah pedalaman, rebahkan diri mempersilahkan diterjang banjir. Wilayah Kota Bima bagian utara warga bersorak berdendang seiring aliran air yang menerjang jalan dan kampung mereka.

Masih tersimpan kan pikiran waras para penguasa dan pemangku kebijakan…?. Masih adakah kepedulian akan negeri ini…? Masih adakah pikiran solutif..? Masih adakah rasa takut akan azab Tuhan…? Masih ada masih ada masih ada…..!

Engkau beralasan. “Ini kebijakan pusat. Daerah tidak tahu menahu”. Bukankah daerah punya hak otonom… mengatur dan menata untuk kebaikan dan kemaslahatan daerah..? Bukankah setiap ada kebijakan yang berpotensi dan berdampak akan kerusakan, daerah punya hak untuk menolak dan meminta untuk ditinjau ulang..?

Ini baru teguran dan peringatan dari Tuhan, berupa kekeringan dan kesulitan air. Baru peringatan, belum azab. Beberapa kali turun hujan sudah banjir. Memberikan warning berdampak akan kerusakan pertanian, sarana jalan, jembatan dll, agarĀ  berpikirĀ  gunakan otak untuk mencari solusi.

Kalau azab dan murka yang datang, bukan hanya satu dua orang yang kena dan mengalami penderitaan… Tetapi semua makhluk akan terkena. Sadarkah, bahwa nanti Tuhan akan minta pertanggung-jawaban. Apa yang dipersiapkan agar bisa menjawab…?

Sekarang boleh bergaya…! Dengan sirine dan pengawal yang tegap-tegap kuasai jalan. Dengan pengawalmu yang bermuka asam engkau terlindungi sehingga rakyat sulit mendekat untuk menyampaikan keluhan.

Buya Hamka berkata : Janganlah engkau berbesar hati lantaran mempunyai kekuasaan pada hari. Tetapi siapkan kekuatan mu saat hadapi sakaratul maut.

Solusi untuk mengatasi kekeringan dan banjir cukup sederhana sebetulnya. Tidak perlu melarang menanam jagung.

Pertama : Disetiap area untuk menanam jagung, hendaknya dibuat sumur resapan air dengan radius antar sumur 25-30 meter dengan kedalaman sekitar 4-5 meter, sehingga air hujan tidak semua ke sungai tetapi masuk dan resap dalam tanah. Hal ini harus dipaksakan.

Kedua : Lakukan penataan ulang. Hutan tutupan negara khusus untuk daerah resapan air dan tidak boleh diganggau. Bercocok tanam lah pada lokasi yang telah ditentukan. Jamgan hantam kromo sebagaimana yang terjadi sekarang.

Ketiga : Pihak Kehutanan tidak lagi bermain untuk menjual lahan dan hutan tutupan negara, seperti yang terjadi di Kecamatan Wawo yaitu di Desa Raba dan Kombo. Semuanya harus kembali kepada fungsi awal sebagai daerah resapan air. Dan fungsikan aparat keamanan sebagai pengawas.

Fungsikan dengan benar akan kekuasaan mu wahai penguasa. Azab Allah sangat keras. Tidak akan mampu menolak dengan senyum manis dan manja. Tetapi harus dengan linangan air mata sebagai tanda tobat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *