oleh

Perjalanan Senyap Menyaksikan Alam Bima Dompu

Perjalanan Senyap Menyaksikan Alam Bima – Dompu. @ HMT

Melintas di perbatasan Bima-Dompu, lambaian daun jagung laksana menyapa. Kera monyet di tepi jalan nunggu belas kasihan. Tidak ada lagi pilihan untuk pertahankan hidup, selain berharap pada yang lalu lalang.

Hutan sebagai istana kebanggaan telah ludes oleh tamak keserakahan manusia. Ratapan tangis mereka tidak dipedulikan lagi. Mereka hanya bisa berdoa mengadu kepada Tuhan menuntut keadilan.

Tidak mau larut dengan perasaan itu, wartawan memacu kendaraan agar cepat sampai di Dompu. HP berdering tanyakan posisi. Dering terakhir tepat tiba di tempat tujuan. Dua bidadari Ramdhana M.Fagih dan Emy Wahyudin arahkan berparkir.

Meja tamu penuh dengan hidangan, ada lemang, salak, pir, pisang rambutan, tidak ketinggalan permen dan air mineral. Bibi pun datang suguhkan secangkir kopi.

Tempat tinggal cukup artistik, nyaman bersih dan rapi. Bekas terbakar terlihat pada dinding dan plafon. Olesan cat tidak sama dengan warna aslinya. Obrolan ngalor-ngidul, canda tawa berlangsung riang seperti saat sekolah dulu.

Jam telah nunjukan angka 12.00. Bidadari berikan kode kepada temannya, bahwa tiba saatnya Lunch. Diajaknya wartawan untuk perbaiki gizi di RM. Rato Mantika mencicipi daging rusa dan udang.

Usai lunch disepakati menuju kediaman Zulkifli, teman sekolah yang biasa dipanggil Zul. Ia pensiunan ASN, dan kini sukses usaha kembang, bibit, dan pupuk terkenal di Dompu NTB.

Zul girang kehadiran dua bidadari. Buah Jeruk Bali yang tergantung rendah dipetiknya. “Silakan cicipi, segarkan kerongkongan pada siang hari. Ini buah manis dan segar,” ucap Zul.

Benar saja… Jeruk yang kelihatan masih hijau kulitnya, ternyata manis dan segar. Tergoda tanaman nan hijau. Indah sebagai beckron foto, lalu berpose ria di tengah tanaman. Ribuan kembang dan bibit berjejer rapi. Ada yang sudah laku terjual tapi belum diambil pembelinya. Sungguh nyaman keberadaan Zul. Cuaca sudah terlihat mendung, isyarat akan hujan, dan sekalian pamit.

Mobil tumpangan posisi parkir masih mengarah (hadap) Selatan. Wartawan sebagai driver bermaksud untuk balik arah. “Jangan balik, jalan terus ikuti arah jalan,” ucap bidadari. Karena driver orangnya nunut ikut sesuai perintah.

“Kita hendak ke mano nih,” tanya driver ingin tau arah tujuan. “Pokoknya terus ikuti jalan, nanti akan dikasih tau jika belok,” jawab bidadari.

Hujan terus menguyur, arah tujuan masih bertanya dalam hati. Perjalanan sudah sekian kilometer. Kantea jeruk masih tersisa. Jalan yang dilalui sudah jarang ditemukan rumah pemukiman. Gerimis masih terus mengiringi.

“Di depan ada pertigaan, belok kiri,” ucap bidadari. Mobil belok kiri, Jalan yang dilalui masih berbatuan belum diaspal. “Maaf wartawan jalannya agak rusak belum diaspal,” ucap bidadari seraya perlihatkan rasa kasihan sama driver.

Sekitar 500 meter berdansa bersama jalan berbatu, lalu disuruh belok kiri lagi. Disepanjang jalan berbatu tersebut terdapat dua tiga rumah jaraknya cukup berjauhan.

Tak lama kemudian perjalanan senyap tibalah pada sebuah tempat yang luas ditembok keliling. Belum sempat mengamati lebih jauh, datang seorang gadis remaja, “assalamualaikum mama,” ucapnya.

Wartawan perhatikan manjanya gadis itu pada bidadari. Dicium tangan dan pipi bidadari. Dan ternyata gadis cantik itu adalah putri bungsu dari Ramdhana M.Fagih. Ia bekerja di situ.

Dan setelah dijelaskan, tempat itu adalah perusahaan ayam bertelur yang ada di Dompu. Terletak di Desa Woko Kabupaten Dompu NTB.

Areanya luas, terdapat 6 buah kandang besar dan panjang, berjejer berisikan ribuan ayam bertelur. Yang menjadi menejer di perusahaan tersebut adalah putri bungsu dari Dae Ndana bernama Nurfagiana, SH. @HMT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *