oleh

Cape Pasti, Lelah Iya, Putus Asa Bukan Pilihan, Walau Engkau Begitu

Capek Pasti, Lelah Iya, Putus Asa Bukan Pilihan, Walau Engkau Begitu

Lelaii ditakdirkan mempunyai sembilan (9) akal satu (1) perasaan. Satu perasaan jika digunakan, maka lelaki akan menjadi mahluk paling peduli, paling penyayang, paling sensitive, paling mudah sakit hati.

Lelaki sebagai pemimpin, merupakan tonggak utama keluarga. Capek sudah pasti. Lelah iya. Putus asa bukanlah pilihan.

Tugas utama berusaha maksimal mencari rezeki, berdoa sekuat mungkin. Sisanya, biarlah Yang Maha Kuasa yang ambil peran.

Demi yang dicintai, ada sebagian suami yang menyeka dulu airmata hingga tak sisa di luar, sebelum ia mengetuk pintu rumah. Ia tidak mau orang yang dicintai melihat lelehan airmata karena keras dan susahnya mencari nafkah.

Ada juga suami yang menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum memasuki halaman. Berusaha tersenyum di balik segala sumpekan. Ia tidak mau orang-orang yang dicintainya melihat gundah yang melanda.

Ada sebagian suami yang merasa sedih saat memasuki rumah. Ketika ditanya sekecil “ayah bawa apa?” Ia tak menjawab, hanya dekapan erat dan kecupan hangat yang ia berikan. Sementara dalam hatinya, sedang salahkan dirinya atas kesempitan yang dialami.

Ada sebagian suami dengan sadar menerima caci maki dari atasan. Bukan, karena ia takut kalah berkelahi. Namun ia kesampingkan harga diri, demi orang yang dicintai. Ia memilih bertahan demi mereka yang ia rindukan.

Ada sebagian suami yang menghisap asap rokok dalam-dalam dan hembuskan dengan perlahan. Ia keluarkan segala gelisah bersama asap rokoknya. Ia tak mau, kekesalanya berbuah marah terhadap orang di rumah.

Ada sebagian suami yang mengendap-endap masuk rumah. Sengaja pulang larut malam, agar fikiran tidak tambah carut marut, saat harus mendengar anak-anak minta bayar SPP, si kecil harus imunisasi, token listrik sudah bunyi, beras tinggal sekali masak. Ia hanya ingin pejamkan mata, agar esok ada semangat berusaha mencari rezeki.

Ada sebagian suami yang menatap lekat orang yang dicintainya saat mereka tidur, berbisik dalam hati, berguman dalam lamunan, tentang kebahagian yang ingin ia berikan.

Ada sebagian suami yang memilih diam dan pergi sesaat jika ada masalah. Bukan, bukan ia takut atau pengecut. Ia hanya tidak mau sakiti orang-orang yang dicintainya.

Ada sebagian suami yang rela berada di tengah bahaya demi orang yang dicintai.

Ada sebagiam suami yang rela bersafar jauh, berpeluh keringat. Demi tersenyum bahagia orang-orang yang dicintai, atas apa yang ia berikan.

Ada sebagian suami yang pura-pura tidak apa-apa, saat ia terjatuh. Ia tidak mau orang-orang yang dicintainya menilai dia rapuh dan lemah.

Betul… suami punya ego ingin dianggap “super hero”, namun ia adalah manusia paling penyayang, paling peduli, sensitif untuk kebahagiaan keluarga.

Masih adakah celah untuk tidak menghargainya pada lelaki yang demikian?. @Theo Wawo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *