oleh

Mengenal Salah Satu Sosok Warga Pesa Wawo di Labu Api Lombok Barat

Mengenal Salah Satu Sosok Warga Pesa Wawo di Labu Api Lombok Barat

Nama H.Jamaluddin.ST yang biasa disapa H.Jamal cukup terkenal dalam komunitas Pesa di Labu Api Lombok Barat. Perawakannya sederhana, hobinya main catur dan terkadang mengocek bola kecil main tenis meja. Ia putra almarhum Ama la Syari. Dulu waktu kecil tinggal di Kampo Dana Bura, rumahnya sejajar arah barat rumahnya Ama la Darasi yang sekarang.

H.Jamaluddin, ST

Jamaluddin setelah tamat SMA tahun 1985, mengadu nasib ke Kupang NTT, kemudian ke Tim-Tim tahun 1986. Di sanalah awal mulanya meraih prestasi sebagai PNS. Karena peristiwa referendum tahun 1999, berpindah ke Mataram.

Akibat Referendum, sehingga orang-orang yang ada di Tim-Tim disuruh pilih salah satu opsi, yaitu tetap berada di Tim-Tim menjadi warga negara Timur Leste atau memilih menjadi warga negara Indonesia WNI, tapi harus angkat kaki dari Timur Leste.

Karena Jamal asli orang Pesa Wawo tentu akan pertahankan menjadi orang Pesa memilih Indonesia, sehingga harus minggat dari tanah kelahiran Xanana Gusmao. Penyebab itulah dia kini berlabuh di Labu Api hingga kini.

Mengetahui ada orang Jakarta berada di Lombok. Pada hari libur Sabtu 11/05/2024, diundangnya bermain catur di rumahnya Blok G-97 BTN Labu Api untuk bertarung main catur. Disiapkannya papan catur Standar Nasional, mungkin berharap dengan papan milik sendiri dan menjadi tuan rumah, akan mudah untuk kalahkan orang Jakarta.

Namun apa hendak dikata, jam terbang Jakarta dalam strategi bermain catur tidak disadari oleh orang sekelas Labu Api. Ia banyak kalah dari Jakarta termakan strategi.

Sebetulnya dalam bermain catur tidak boleh bicara yang tidak berkaitan dengan standar ditetapkan Fide. Namun Jakarta justru manfaatkan hal itu, gangguin konsentrasi lawan dengan trik bicara, sehingga Jamal yang kurang Jam Terbang banyak kalahnya.

Kembali ke kisah hidup. Menurut Jamal. Kepada Ex-Tim-Tim yang memilih menjadi WNI, umumnya dikembalikan ke daerah asal mereka. Karena Jamal berasal dari NTB, maka ditempatkan di Mataram, dan sambil menunggu masa transisi sekitar tiga (3) bulan, kemudian baru dapatkan penempatan definitif di PUPR Mataram hingga kini. Begitulah cerita dan pengakuan H.Jamal.

Observasi dilakukan yang kemas dalam bermain catur tersebut, banyak hal yang dapat menjadi spirit dalam pencapaian prestasi dan pengakuan dari orang lain tentang integritas, warga Bima, khususnya warga Pesa yang ada di Lombok.

Tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa, pemikiran mereka maju, planning masa depan jelas dan tepat sasaran. Mereka kompak dan saling suport dalam meraih prestasi. Profesi mereka selain sebagai pegawai pemerintah, juga berwirausaha, seperti piara kambing di kebun miliknya. Sebab masing-masing mereka punya tanah kebun yang ditanami durian, alfokad dan juga untuk sayur dll.

Pengakuan polos dari salah seorang istrinya, bahwa dalam belanja kebutuhan rumah tangga hanya membeli lauk, sedangkan sayuran tinggal ambil di kebun, ucapnya bersyukur.

Penulis sendiri menyaksikan dan telah menikmati singkong dari kebun mereka. Menyaksikan Kambing Otawa yang gemuk dan sehat yang dipiara. Rasanya inilah suatu kesenangan hidup. @HMT.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *