oleh

Istri Tercinta dan Jeruk Bali Nan Asam

Istri Tercinta dan Jeruk Bali Asam

Suatu hari Emil beli jeruk bali untuk istri. Sang istri riang, ingin cepat-cepat untuk nikmati jeruk tersebut. Suaminya membuka jeruk, lalu makan berdua, dan ternyata rasanya asam. Wajah isteri berubah. Ia marah dan ngomel, karena jeruknya nggak enak dimakan. Emil diam, sabar dengarkan istrinya ngoceh dan ngomel.

Setelah istrinya usai luapkan emosinya, sang suami bertanya dengan lembut, kepada siapa engkau marah wahai istriku?. “Kepada pedagang buahkah, atau kepada pembelinya atau kepada petani yang menanamnya, atau kepada yang ciptakan jeruk,?” tanya Emil.

Istrinya terdiam, namun wajahnya masih terlihat kesal. Emil lanjutkan. “Seorang pedagang tidak menjual sesuatu, kecuali yang terbaik. Pembeli pun pasti membeli yang terbaik. Begitu juga petani, tentu merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik. Maka sasaran marahmu yang tersisa hanya kepada yang ciptakan jeruk,” ucap suaminya. Pertanyaan Emil menembus rulung hati istrinya. Butiran air matanya mulai menetes di pipinya.

Emil terus berkata. “Wahai istriku, terimalah apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya, agar Allah memberikan keberkahan,” imbuh suaminya yang membuat istri benar-benar luluh menyesal. Istrinya sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya, hingga ridha akan ketetapan Allah yang diberikan kepadanya.

Sesungguhnya setiap keluhan terucap, sama halnya dengan menolak atau tidak ridha akan ketetapan yang diberikan Allah, sehingga keberkahan menjauh, enggan menyertai.

Berkah bukanlah serba cukup dan mencukupi. Berkah adalah bertambahnya ketaatan kepada Sang Khaliq dengan segala kondisi keadaan, baik yang disukai atau sebaliknya.
.
Makanan berkah, bukan komposisi gizi yang lengkap, tetapi yang membuat penikmatnya menjadi lebih taat setelah memakannya.
.
Hidup berkah bukan hanya sehat, tetapi sakit pun justru membawa berkah, karena bisa jadi akan menjadikannya taat ibadah, menjauhi larangan Allah.

Barakah itu tidak selalu sehat dan panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat dalam ketaatan.

Tanah yang barakah, bukan karena subur dan panorama indah, karena tanah yang tandus juga punya keutamaan yang tiada bandingnya.

Ilmu yang berkah bukan banyak meriwayatkan dan catatan kaki, akan tetapi berkah menjadikan seorang taat dan gemar menyampaikannya.
.
Penghasilan berkah, bukan gaji besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia menjadi jalan rejeki bagi yang lain, dan semakin banyak orang terbantu dengan penghasilannya.
.
Anak-anak yang berkah, bukan semata saat kecilnya imut lucu dan setelah dewasa sukses bergelar dan punya jabatan hebat, tetapi anak yang berkah adalah yang senantiasa taat kepada Tuhan-Nya, dan mendo’akan orang tuanya baik masih ada, maupun telah tiada. @Theowawo.